| << Halaman Depan Berita |
Kamis, 25 Februari 2010 00:57
Abstrak Tak Pernah Mati JOGJA: Idealisme dan spiritualitas perupa abstrak tak perlu dipertanyakan lagi, meski selama ini dibilang sepi peminat. Seni abstrak dan seniman abstrak membuktikan diri masih bertahan dan tetap eksis di dunia seni rupa. Sekitar tujuh seniman abstrak, AT Sitompul, Dedy Sufriadi, Netok Sawiji Rusnoto Susanto, Nunung WS, Sulebar M Soekarman, Utoyo Hadi, dan Yusron Mudhakir menggelar pameran bertajuk Soulscape - the Treasure of Spiritual Art.
Pameran ini digelar Selasa (23/2) hingga Kamis mendatang (4/3) di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Menurut salah satu perupa, Sulebar M. Soekarman pameran ini merupakan puncak dari perwujudan Manifesto Abstrak di Jakarta pada 17 Juni 2005 lalu. “Pameran ini sebagai sikap dan perwujudan bahwa seni abstrak di Indonesia itu masih ada wujudnya. Khususnya setelah Manifesto Abstrak Jakarta pada 17 Juni 2005 lalu. Sekaligus membubuhkan bahwa perupa abstrak tak pernah mati,” kata Sulebar.
Sulebar menambahkan saat ini masyarakat yang awam seni abstrak menganggap lukisan abstrak tak populer. Tak seperti aliran seni lain seperti figuratif, realis dan kontemporer. Namun sesungguhanya seni abstrak dan seniman abstrak masih tetap berkarya. “Seni abstrak mungkin tidak diminati pasar. Tapi kami, para seniman abstrak tetap berkarya menghasilkan seni abstrak. Idealisme kami di seni abstrak tetap ada. Sebab kami berkarya bukan karena ada pesanan,” tandas Sulebar.
Perupa lain, seperti AT Sitompul juga memaparkan terkait popularitas seni abstrak. Baginya, seni memang tak bisa menjadi tren dalam pasar. Meski demikian wacana dan spiritual seni abstrak tetap hidup dalam masing-masing perupa abstrak. “Pada tahun 1990-an lalu, Sanggar Dewata Indonesia berhasil membawa seni abstrak ekpresionis menjadi trend di dunia seni lukis Indonesia. Ini hanya mengenai ritme dan siklus saja. Jadi saya yakin seni abstrak akan bangkit pada waktunya nanti,” ujar Sitompul serius.
Sitompul juga menambahkan bahwa memang banyak orang yang masih berpandangan tentang seni abstrak yang tak mudah dimengerti. Pandangan itu, menurut Sitompul, salah besar dan perlu diluruskan. “Untuk itu dalam pameran ini kami luncurkan sebuah buku bertajuk Soulscape - the Treasure of Spiritual Art. Dalam buku ini memberikan pengertian dan pengetahuan tentang seni abstrak bagi masyarakat. Terlebih yang menjadi hal utama bagaimana memberikan memaknai seni abstrak tidak sulit,” kata Sitompul lagi.
Salah satu penulis buku Soulscape - the Treasure of Spiritual Art, Anton Lorenz menungkapkan pameran ini menjadi pameran seni abstrak paling menarik tahun ini. Sebab seluruh perupa yang berpameran berani dengan terang-terangan mengekpresikan ide dan pemikirannya dalam sebuah karya.
Joko: Nugroho (HARIAN JOGJA)
sumber : harianjogja.com
Senin, 10 Mei 2010 04:25
PT. PRADANA LINTAS SEMESTA CARGO Jumat, 12 Maret 2010 22:35
Menkes puji RPG Rabu, 10 Maret 2010 23:26
Korupsi di DIY peringkat 10
|
| |
| Berita Umum Lainnya |
|
 |
| Organisasi & Pemerintahan |
|
 |
| Jogja Publishing |
| • | Kamis, 30 Juli 2009 23:07
|
| • | Rabu, 11 Maret 2009 22:20
|
|
 |
|